breaking news New

Kapolsek Lasiolat Diduga Tuding Anak Dari Korban Penganiayaan Sebagai Provokator dan Wartawan Tidak Bagus

Kapolsek Lasiolat, Egidius Mau Taek. Foto: Herminus Halek

ATAMBUA, JURNALNTT.COM-Kapolsek Lasiolat, Egidius Mau Taek diduga menuding Yohanes Berechmans Asa, anak dari Stanislaus Kali, korban penganiayaan sebagai provokator dan wartawan yang tidak bagus.

Tudingan itu dilontarkan kapolsek Egidius dengan suara sangat keras di ruangan kantor Polsek Lasiolat, Selasa (9/7/2019), saat proses klarifikasi terkait kasus dugaan saling klaim terkait status kepemilikan tanah di lokasi pembangunan pondasi rumah milik anak kandung Stanislaus Kali, Yovita Dau.

Perdebatan di antara Egidius Mau Taek dan Yohanes Berchmans Asa terdengar jelas dalam hasil rekaman audio yang diterima media ini dari Yohanes, Selasa sore (9/7/2019).

Dalam rekaman audio itu, Kapolsek juga mengancam akan mempidanakan Yohanes jika terbukti sebagai orang yang memprovokasi masyarakat.

“Kalau kau yang menjadi provokator, otomatis polisi akan ambil tindakan tegas. Jangan jadi provokator untuk memanas- manasi situasi. Jadi wartawan, jadilah wartawan yang baguslah,” demikian kutipan suara kapolsek dalam rekaman itu.

Menampik tuduhan kapolsek itu, Yohanes Berchmans Asa atau yang biasa disapa Yobers mengatakan kepada Kapolsek Egidius bahwa ia hadir dalam proses klarifikasi itu sebagai anak kandung korban penganiayaan, bukan sebagai wartawan, apalagi sebagai provokator.

“Maaf bapak, jangan omong tentang wartawan dan provokator. Saya datang sebagai anak kandung korban. Omong wartawan itu tidak boleh. Wartawan itu profesi, bapak,” ungkap Yobers dalam rekaman itu.

Saling jawab antar keduanya pun masih berlanjut. Kapolsek menerima apa yang dikatakan Yobers. Namun terdengar suara Kapolsek terus meninggi. Kapolsek menganjurkan sikap saling menghormati.

“Ya, memang benar. Kau dengar dulu. Kau ini orang mengerti. Kau bilang kau orang wartawan, ya jadi tolong saling menghargai. Jangan kemudian, kau anggap kau bisa dalam segala hal,” kutipan bagian lain dari isi rekaman itu.

Menjawabi tuturan kapolsek tersebut, Yobers kembali menegaskan, ia hadir sebagai anak kandung korban penganiayaan.

“Saya datang ke sini, dari tadi saya tidak omong apa- apa. Saya terpaksa omong karena bapak ancam penjarakan saya karena bilang saya provokator masyarakat. Jangan cap wartawan tidak baik. Jadi jangan omong yang itu (wartawan, red), jelas Yobers.

Mendengar uraian Yobers itu, terdengar suara Kapolsek terus meninggi dan mengatakan jika keluarganya juga ada yang berprofesi sebagai wartawan.

Kapolsek Egidius juga menegaskan dalam rekaman itu bahwa saudaranya tersebut (yang tidak sempat disebutkan nama media dan nama wartawan itu), katanya terdaftar di Persatuan Jurnalis Indonesia (PJI).

“Saya punya saudara juga wartawan, Pak. Saya punya adik dong juga terdaftar di PJI”, ujar kapolsek dengan suara meninggi dalam rekaman.

Sementara terkait polemik saling klaim kepemilikan atas tanah, Kepala Desa Dualasi Raiulun, Kecamatan Lasiolat, Kabupaten Belu, Sebastiana Mako, membantah jika dirinya telah menegur keluarga Stanislaus Kali yang sedang mengerjakan pondasi rumah milik Yovita Dau.

Hal ini diungkapkan Sebastiana melalui sambungan telepon seluler, Selasa (9/7) siang ketika dihubungi media ini.

Tanah itu, jelas kepala desa, merupakan tanah entah tanah suku atau pun tanah warisan leluhur tidak diketahuinya secara pasti.

Ia hadir di lokasi lantaran mendengar ada keributan antarwarga di wilayah desanya terkait saling klaim status kepemilikan tanah tersebut.

Lokasi itu, seperti diberitakan media ini sebelumnya, terletak di RT 01/RW 01, dusun Fattara 1, desa Dualasi Raiulun, kecamatan Lasiolat.

Kepala desa, lanjutnya hadir di lokasi dengan tujuan selain mendengar ada keributan, juga untuk mengajak warganya yang berselisih agar dikomunikasikan baik- baik sehingga hubungan kekeluargaan tidak renggang hanya karena masalah tanah.

“Saya pi (pergi) karena dengar dong ribut. Saya pi bukan untuk tegur supaya dong berhenti kerja. Saya juga pi tidak ribut di sana. Saya mau dong omong baik- baik sa,” ungkapnya.

Diakuinya, pengerjaan pondasi rumah itu untuk sementara sudah dihentikan karena masalah itu sudah dilaporkan ke polsek Lasiolat. Karena itu, penyelesaiannya pun tentu di kantor polisi Lasiolat.

“Ini su lapor to, jadi masih urus. Pak nanti tanya di polsek sa karena dong su baku lapor di polisi”, anjurnya.

Terkait status tanah, kepala desa menuturkan, informasi pasti itu ada pada ketua suku. Ia sendiri tidak mengetahui secara jelas kepemilikan tanah itu.

Karena itu, ia menawarkan kedua belah pihak yang berseteru itu untuk diselesaikan di kantor desa saja.

“Dong (mereka) dua itu adik kakak, jadi urus baik- baik saja. Saya bukan pi tegur untuk mau berhenti atau apa,”ungkapnya.

Ketika ditanya wartawan apakah benar ibu kades hanya menonton saat ketua RT menganiaya Stanislaus? Ia mengatakan, sebagai perempuan tentu tidak bisa berbuat banyak apalagi sampai harus berusaha melerai perkelahian antarkaum laki- laki.

“Saya perempuan ini mau bagaimana. Laki- laki dong berkelahi saya tidak mungkin mau pi lerai to,” terangnya.(HH)

0 Comments

Leave a Comment

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password