All for Joomla The Word of Web Design
breaking news New

Lestarikan Norma Adat Makereknen, Pemerintah Desa Bakustulama Gelar Kegiatan Pembinaan Lembaga Adat

Kades Bakustulama, Raymundus Berek (tengah), pose bersama para tokoh adat di Desa Bakustulama. Foto: Herminus Halek

ATAMBUA, JURNALNTT.COM-Dalam rangka melestarikan norma adat istiadat di wilayah adat Makereknen, Pemerintah Desa Bakustulama, Kecamatan Tasi Feto Barat, Kabupaten Belu menggelar Kegiatan Pembinaan Lembaga Adat Tahun Anggaran 2019 di Aula Kantor Desa Bakustulama, Jumat (5/7/2019) siang.

Kegiatan itu dihadiri oleh sebagian besar ketua- ketua suku se-Bakustulama. Kegiatan itu pun digelar dengan dukungan Anggaran 2019.

Kepala Desa Bakustulama, Raymundus Berek menjelaskan, norma- norma tradisi adat di desa Bakustulama dirasa semakin memudar. Karena itu ditegaskannya, apa yang disepakati dalam pembinaan itu wajib diterapkan kembali sebagaimana mestinya. Sikap saling menghargai sudah semakin menghilang.

Lebih lanjut diurainya, pemerintah desa juga sering tidak diundang dalam acara suka duka di wilayah desa Bakustulama. Ita ne asu fahi, ktaek no kneter lakon (kita sudah seperti anjing babi, norma adat mulai menghilang). Karena itu, adat istiadat perlu dilestarikan kembali.

Di wilayah adat Makereknen, semua tahapannya harus tetap berlaku, dan diperkuat dengan Perdes (Peraturan desa).

Yoseph Berek, mantan Kades Bakustulama, yang hadir sebagai salah satu nara sumber pembinaan itu menekankan terkait kneter ktaek (saling menghormati dalam adat- istiadat) yang dinilai makin pudar seiring pergeseran zaman, terutama menyangkut adat istiadat rumah suku, kedukaan, tarian khas tetun, seperti tebe dan he’uk (tebe dan likurai).

“Kalau kita tidak mulai lestarikan mulai dari sekarang, maka generasi muda lupa dalam mencintai budaya sendiri. Saya berharap sepulangnya para ketua suku dari tempat ini, wajib menyampaikan materi hari ini kepada anggota sukunya masing- masing untuk diterapkan secara baik”, harapnya.

Dikatakannya juga, ketua suku itu kepala atas suku. Karena itu perlu dibedakan dengan orang yang hanya bertugas menjaga rumah adat. Yang lebih berperan dalam urusan adat, adalah kepala suku dan yang harus lebih didengar itu peran ketua adat dalam suku.

“Adat harus baku, tidak boleh ada tambah kurangnya. Konsep nilai adat itu satu dan tetap,” tukasnya menambahkan.

Nara sumber lainnya yang membawakan materi pembinaan, Sekretaris Desa Bakustulama, Yohanes Abesi menguraikan, masalah yang sangat urgen untuk dibahas dan disepakati adalah soal nilai belis anak gadis. Semua kepala suku wajib menjalankan hasil kesepakatan terkait besar kecilnya angka belis anak gadis.

Selain itu, tradisi Saras, Ha se Ha waka, (tegur sapa) kepada para tamu undangan yang menghadiri acara adat tertentu. Menurutnya, Saras, mendahului doa.

Tradisi Saras dinilai sudah hampir terkikis dari praktek adat di wilayah Bakustulama. Abesi berharap, apa yang disepakati menjadi hal yang wajib untuk dipegang teguh secara turun temurun.

Hal lain lagi disampaikannya, tradisi Manaran (semacam nilai tertentu yang wajib dibayar), cenderung dibolak- balikkan ketika ada pergelaran adat anak gadis.

Disinggung Yohanes juga soal sumbangan sosial dalam kedukaan. Namun, ditanggapi semua hadirin, itu masih berjalan wajar di semua dusun dengan angka tetap Rp. 25.000 per KK.

Selain itu, ditegaskan ketika ada kedukaan dalam wilayah Bakustulama tidak perlu diundang lagi dari rumah ke rumah (door to door).

Ketua Suku Tona, Hilarius Fahik menambahkan, fetsawa (keturunan darah perempuan) dan malun (keturunan darah laki- laki) wajib diundang dalam urusan adat, kecuali ha’i kain uma kain (rumah tangga).

Sedangkan, undangan setiap rumah tangga tidak perlu dilakukan lagi dengan harapan ada kesadaran sendiri untuk menghadiri tanpa harus diundang. Ditandaskan Hilarius, setiap orang harus hadir karena kesadaran diri sebagai bagian dari masyarakat adat Bakustulama.

Ketua adat suku Dato, Raymundus Aimoruk menekankan pentingnya peranan semua ketua suku. Karena itu, perlu didahulukan dengan mengenal siapa kepala suku sesungguhnya.

Pemerintah desa, diusulkannya untuk memfasilitasi pengukuhan setiap kepala suku secara resmi di wilayah Makereknen. Hal itu, dimaksudkannya agar masyarakat tahu siapa sebenarnya kepala suku yang diakui secara adat.

Berkaitan dengan urusan rumah adat, Aimoruk menegaskan, tidak boleh harakat ‘an (marah untuk tidak mau hadir) karena lulik (benda- benda sakral, keramat) yang mengundang, bukan manusia.

Lulik tidak bisa dibebankan untuk membayar sala ba malu (denda) kepada orang yang marah. Denda itu urusan sesama manusia, bukan lulik.

Ada pun hal- hal yang disepakati untuk ditindaklanjuti: Pengukuhan Ketua Suku, pembentukan Bilotu (seksi adat), Tahapan adat perkawinan, Saras/ Hase hawaka (tegur sapa), Sama Hare (rontok padi secara tradisional), Tebe dan likurai secara tradisional (bukan musik modern).

“Jangan bawa adat tempat lain untuk campur adukkan dengan adat makereknen, Ktaek no kneter. Sesama sekandung tidak boleh saling masuk kamar. Saudara perempuan dan saudara laki- laki tidak boleh saling memasuki kamar”, tegasnya sebagai hal yang haram.

Lambertus Taek, ketua suku lainnya, menambahkan, ketika ada urusan adat, orang tua adat dalam suku yang harus lebih dahulu duduk di tikar adat sebelum orang tua adat dari suku lain bergabung.

Kepala dalam suku yang harus tunjukkan peranannya sebelum menghimpun kepala suku lain.

“Orang tua adat duduk di tikar bukan di dapur. Orang tua adat wajib jadi teladan bagi orang muda”, tandasnya.

Ketua suku lanjutnya, ditandai dengan futu lesu tau faru (ketua suku resmi), sehingga diakui oleh anggota suku.

Dengan demikian, dapat dihormati sebagai figur yang memiliki aura kepemimpinan. Futu lesu tau faru sebagai tanda ketua suku yang diakui.

Direncanakan bersama dalam forum itu, ke depannya segera dibangun sanggar adat untuk ditindaklanjuti dalam rangka melatih dan membina generasi muda.

Selain itu, pamong adat desa Bakustulama, Andreas Moruk meminta sikap saling sepakat untuk mengangkat nilai- nilai adat yang ada di 47 suku yang tersebar di wilayah Makereknen, Bakustulama.

Diusulkannya bagi setiap suku wajib dibentuk seksi- seksinya sehingga menjadi pelayan saat urusan adat.

“Ka’en kelun ba malu hodi habu rai, (bahu membahu untuk membangun, red), tuturnya.

Di akhir kegiatan tersebut, kades Bakustulama mengatakan, ketika tiba waktu pengukuhan setiap kepala suku akan dituruthadirkan camat Tasifeto Barat dan bupati Belu.

Raymundus memandang perlu lantaran selama ini rasa hormat kepada kepala suku sesungguhnya sudah tidak diperhatikan lagi.
“Hargai diri sebelum dihargai,” katanya menutupi.

Kegiatan itu berakhir dengan foto bersama antara pemerintah desa dan semua peserta. (HH)

 

0 Comments

Leave a Comment

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password