All for Joomla The Word of Web Design

Mencari Solusi Konflik Naibonat

Oleh: Sipri Klau

Rabu tanggal 5 Juni 2019, dua kelompok pemuda yang tergabung dalam Ikatan Keluarga Silat Putra Indonesia (IKSPI) Kera Sakti dan Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT) di Naibonat, Desa Manusak, Kecamatan Kupang Timur, Kabupaten Kupang, Provinsi NTT, kembali bentrok.

Dalam bentrok berdarah ini satu orang dinyatakan tewas dan empat orang lainnya luka-luka.

Bentrok berdarah antara dua kelompok pemuda sekampung ini bukan baru pertama kali. Aksi saling bunuh ini sudah berulang kali terjadi.

Setiap kali bentrok pasti jatuh korban luka dan tewas.

Jika ditelusuri, hal sepele kerap menjadi pencetus bentrok berdarah ini.

Ulah dua kelompok pemuda ini tentunya sangat meresahkan.

Meskipun sudah berulang kali terjadi, peristiwa berdarah ini tanpa solusi penyelesaian.

Peran aparat kepolisian pun baru sebatas mencari, menangkap dan proses hukum para pelaku bentrok.

Memang benar. Proses hukum sangat dibutuhkan agar terciptanya efek jera bagi para pelaku.

Namun tindakan pencegahan konflik akan lebih efektif. Kegiatan penyuluhan Kamtibmas di tingkat Polsek Kupang Timur harus digalakan secara luas.

Pemerintah daerah dan unsur Forkompimda tentu harus menemukan solusi cepat dan tepat dalam penyelesaian bentrok berdarah ini.

Untuk menemukan solusi tepat maka unsur Forkompimda harus segera menggelar forum dialog.

Forum dialog itu harus melibatkan tokoh agama, tokoh masyarakat, tokoh pemuda, orang tua kedua kelompok pemuda yang berkonflik dan pimpinan dua perguruan silat itu.

Forum dialog yang digelar Forkompimda itu harus mampu membuahkan solusi tepat; mencari akar persoalan dan menuntaskan persoalan dengan solusi jitu.

Solusi penyelesaian konflik Naibonat tak hanya dengan pendekatan hukum. Butuh pendekatan budaya.

Nilai-nilai kearifan lokal bisa dijadikan sebagai alternatif penyelesaian konflik.

Apalagi kelompok pemuda yang tergabung dalam dua perguruan silat itu memiliki kearifan lokal yang sama.

Dua kelompok pemuda pada dua perguruan silat itu bisa disumpahi secara adat dengan meminum darah binatang.

Acara sumpah adat ini bisa digelar dengan melibatkan unsur Forkompimda dan stakeholder lainnya, termasuk orang tua pemuda dari dua perguruan silat yang berkonflik.

Pemerintah juga harus bisa menciptakan lapangan kerja seluas-luasnya bagi masyarakat usia produktif, termasuk para pemuda dari dua perguruan silat itu.

Legal standing dua perguruan silat itu harus diteliti.

Struktur organisasi dua perguruan silat itu, mulai dari pimpinan sampai dengan anggotanya harus didata.

Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga serta visi-misi dari kedua organisasi bela diri itu juga harus diteliti secara detail.

Tujuan pendataan itu agar unsur Forkompimda mengenal secara baik unsur pimpinan dan anggota dua peerguruan silat itu.

Melalui pendataan itu, pemerintah dan unsur Forkompimda bisa memastikan dan mengetahui tujuan pendirian dua organisasi bela diri tersebut.

Jika dalam penelitian, ternyata kedua organisasi bela diri itu legal maka pemerintah harus mencari solusi dengan merubah kegiatan dua organisasi itu menjadi olahraga berprestasi.

Anggota dari dua perguruan silat itu bisa diikutsertakan dalam pertandingan silat baik di pentas lokal maupun nasional.

Namun jika ditemukan visi-misi dari kedua organisasi tersebut menyimpang dari ketentuan pendirian organisasi maka pemerintah harus tegas membubarkan dua perguruan silat itu.

Sebab jika penyelesaian konflik Naibonat ini hanya sebatas dialog, jabat tangan dan berpelukan  maka peristiwa berdarah ini akan terus berulang. (*)

 

0 Comments

Leave a Comment

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password