All for Joomla The Word of Web Design

Dedikasikan Hidup Sebagai “Pendeta Petani” Untuk Berdayakan Ekonomi Jemaat

Pendeta Markus Leunupun, STh (kiri/bertopi) bersama anggota jemaat Gereja GMIT Oemathonis Noelsinas, Klasis Kupang Barat, Kabupaten Kupang sedang memanen semangka.

Latar belakang ilmunya adalah Teologi. Saat ini ia telah mengabdi sebagai seorang pendeta di Gereja Masehi Injili di Timor (GMIT) Oemathonis Noelsinas, Klasis Kupang Barat, Kabupaten Kupang.

Berangkat dari keyakinannya bahwa seorang pendeta seharusnya tak hanya berdiri di atas mimbar untuk mengabarkan firman Tuhan kepada jemaat. Namun lebih dari itu, pendeta harus menyatakan firman Tuhan itu melalui karya nyata di tengah jemaat yang digembalainya.

Keyakinannya itu telah mendorong, Pendeta Markus Yonathan Leunupun, STh, seorang pendeta muda yang gigih menyatakan firman Tuhan ke tengah jemaat yang digembalainya dengan mengajak jemaatnya untuk bertani.

Pendeta Marco, atau sapaan akrab Pendeta Markus Leunupun, STh menyadari bahwa hampir 98 persen jemaat Gereja GMIT adalah petani tradisional.

Kesadarannya itu membawanya pada sebuah pergumulan sosial dan teologis tentang bagaimana memberdayakan ekonomi jemaat dengan cara merevolusi sistem pertanian tradisional yang digeluti jemaatnya menjadi sistem pertanian yang lebih modern.

Ia tidak sendiri. Dalam pergumulannya itu, ia selalu ditemani Desryanti Rohi Djami, sang isteri tercinta yang berlatarbelakang sebagai sarjana ilmu pertanian.

Bersama sang isteri, Pendeta Markus memulai mimpi besarnya memberdayakan ekonomi jemaatnya melalui sistem pertanian modern. Impian sebagai pendeta petani mulai diwujudkannya di Kabupaten Manggarai.

Saat itu, Pendeta Marco bertugas sebagai pendeta di Gereja Imanuel Ruteng. Dalam menjakankan tugas, Marco berinteraksi dengan para pastor dari Gereja Katholik yang sudah lebih dahulu melakukan pemberdayaan ekonomi jemaat melalui bidang pertanian.

“Saya lihat di Manggarai itu setiap gereja pasti ada kebun. Saya berpikir apa salahnya kita praktekan di gereja GMIT,” ungkapnya.

Keberhasilan para pastor dan bruder dalam memberdayakan ekonomi jemaat di Manggarai menjadi salah satu motivasi yang mendorongnya untuk memantapakan hati menjadi pendeta petani.

Di Manggarai, ia terjun ke tengah jemaatnya dan mengajak mereka untuk mulai meninggalkan cara bertani tradisional.

Ajakan Pendeta Marco ini tidak langsung disambut baik. Karena itu ia harus memberi contoh terlebih dahulu kepada mereka dengan cara berkebun dan bercocok tanam tanaman hortikultura. Seperti lombok, labu, kacang kacangan, semangka, kacang panjang dan sayur-sayuran lain yang bernilai ekonomis tinggi.

“Awalnya sulit rubah kebiasaan petani. Karena itu saya dan isteri harus beri contoh dengan buat kebun dan menanam. Setelah jemaat lihat hasil panen tanaman yang kita tanam barulah mereka menerima ajakan kita,” ungkapnya.

Setelah memberi contoh berkebun, Ia dan isterinya memberikan penyuluhan pertanian kepada jemaat yang ingin mempraktekan cara bercocok tanam yang lebih modern.

Mereka mengajarkan jemaat tentang bagaimana cara menanam berbagai tanaman hortikultura itu dengan sistem bedengan, menjaga kelembaban tanah dengan pemasangan Mulsa Plastik Hitam Perak (MPHP). Cara persemaian bibit, cara penyemprotan hama dan identifikasi jenis hama yang benar.

Pasangan suami isteri ini juga mengajarkan sistem manejemen pemasaran hasil pertanian pasca panen. Di Gereja Imanuel Ruteng, Manggarai, Marco berhasil menggerakan jemaatnya untuk meninggalkan cara-cara bertani tradisional.

Tahun 2006, Marco dan keluarga kecilnya harus pindah ke Kabupaten Kupang dan bertugas di Gereja GMIT Oemathonis, Noelsinas, Klasis Kupang Barat. Kepindahan Marco dan isteri tersebut semata karena sang isteri tercinta mengalami sakit yang tak memungkinkan isterinya berada di daerah yang bercuaca dingin seperti Manggarai.

Kepindahannya ke Kupang tidak melunturkan niatnya untuk melanjutkan tugasnya sebagai pendeta petani. Di Gereja Oemathonis, Pendeta Marco kembali mengajak jemaatnya untuk bertani secara modern. Alhasil, saat ini hampir semua jemaat Gereja Oemathonis mulai mengikuti jejak Marco dan isterinya.

Agar pemberdayaan ekonomi jemaat melalui bidang pertaniaan ini menjadi masif, Pendeta Marco mulai mengajak pendeta lainnya untuk bergabung dalam program pemberdayaan ini. Hingga tahun 2018, hampir 150 pendeta dari berbagai denominasi gereja di Provinsi NTT menjadi pendeta petani.

Semua pendeta ini menggabungkan diri dalam sebuah organisasi yang diberi nama Komunitas Pendeta GMIT Suka Tani (Kompas Tani).

Lahirnya Kompas Tani ini tidak terlepas dari dukungan ketua Sinode GMIT, Pendeta Dr, Mery Kolimon, Ketua Komisi V DPR RI, Fary Djemi Francis selaku anggota majelis Sinode GMIT bagian politik dan Robert Fanggidae selaku anggota majelis Sinode GMIT bagian ekonomi.

Komunitas Kompas Tani yang diketuai Pendeta Jefry Watileo, STh, Pendeta Yongky Riri, MTh, selaku wakil ketua dan Pendeta Marco selaku sekretaris serta Defris Kotan selaku wakil sekretaris ini rutin melakukan pelatihan pertanian bagi anggota komunitas dan jemaat.

Ilmu yang diperoleh para pendeta yang telah dilatih tersebut ditularkan kepada jemaat di tempat tugasnya masing-masing. Bulan April 2017, Kompas Tani melakukan pelatihan pertanian pertama kepada 50 orang pendeta.

Di bulan Agustus 2017, Kompas Tani menggelar pelatihan pertanian yang kedua kepada 50 orang pendeta. Rencananya di bulan April tahun 2018 ini akan diadakan pelatihan bagi 50 pendeta dari NTT dan 10 pendeta dari Negara RDTL di Kabupaten Malaka.

Dalam melaksanakan program pemberdayaan ini, Kompas Tani membentuk kelompok tani dan bermitra dengan pemerintah.

Kemitraan bersama pemerintah terbilang sukses. Buktinya beberapa tahun terakhir, perjuangan Kompas Tani mendapat dukungan penuh dari Pemerintah Kabupaten Kupang.

Melalui perjuangan Ketua DPRD Kabupaten Kupang, Yoseph Lede, jemaat Gereja GMIT Oemathonis, Noelsinas yang merupakan anggota Kompas Tani mendapat banyak bantuan bibit pertanian, hand tracktor dan motor air.

Kompas Tani juga menggandeng para penyuluh pertanian profesional dari perusahaan pengadaan bibit pertanian berlabel “Panah Merah”.

Hadirnya para penyuluh dari perusahaan ini semakin memantapkan langkah Kompas Tani untuk mewujudkan program pemberdayaan ekonomi jemaat melalui bidang pertanian.

Selama 12 tahun bertugas di Gereja Oemathonis Noelsinas, Marco dan Kompas Tani sukses merubah cara berpikir jemaat petani. Saat ini setiap jemaat di tempat tugas para pendeta ini pasti memiliki kebun yang ditanami dengan tanaman hortikultura.

“Sekarang ini setiap enam bulan pasti kita lelang hasil pertanian jemaat. Dan ini berkontribusi besar bagi peningkatan keuangan gereja,” katanya.

Saat ini program pemberdayaan ekonomi jemaat petani ini tidak hanya dilaksanakan di lingkup jemaat Gereja GMIT Oemathonis Noelsinas saja. Namun sudah lebih luas kepada jemaat dari berbagai denominasi gereja di seluruh Provinsi NTT.

Informasi mengenai pemberdayaan ekonomi jemaat melalui bidang pertanian ini sudah mendunia. Karena itu, sesuai rencana, pada tanggal 4 sampai tanggal 8 April 2018 ini, Jemaat Gereja Oemathonis Noelsinas akan mendapat kunjungan istimewa dari beberapa jemaat gereja dari delapan negara.

Pendeta Marco berharap, melalui Kompas Tani, program pemberdayaan ekonomi jemaat petani melalui bidang pertanian ini menjadi sebuah program yang mensejahterakan.

Sebab kesejahteraan akan meminimalisir berbagai keinginan jemaat untuk menjadi Tenaga Kerja Indonesia (TKI) ke luar negeri.

Selain itu, kesejahteraan diyakininya dapat meminimalisir tindak kejahatan di lingkungan masyarakat. (Sipri Klau)

 

0 Comments

Leave a Comment

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password